Tren “Berapa Harga Outfit Lo?”

Tren “Berapa Harga Outfit Lo?”

“berapa harga outfit lo?”
“topi 5 juta, kaos 2 juta, celana 1 juta, sepatu 30 juta, kalung 10 juta, cincin 5 juta, jam 12 juta, tas 20 juta.”
“jadi total semuanya 85 juta.”

Tren “berapa harga outfit lo?” yang sering kita lihat di youtube sedang populer. Hypebeast begitulah sebutannya untuk orang yang menggunakan barang-barang bermerek, trendy dan sudah pasti mahal tentunya. Hal seperti ini sedang marak bukan hanya orang dewasa saja tapi sudah merambah para remaja yang ingin tampil keren dalam aktivitas mereka.

Kalangan Hypebeast ini bisa melakukan apapun untuk mendapatkan semua yang mereka inginkan, termasuk menggunakan kartu kredit hanya untuk memenuhi hasrat mereka berpenampilan modis. Bahkan sebagian besar dari mereka akan mengabaikan match atau tidak untuk dirinya asalkan berkesan mahal dan mewah.

Fenomena Hypebeast ini pertama berkembang di Amerika Serikat tahun 2017, dengan tantangan “how much is your fit?” dari beberapa youtuber salah satunya dari channel The Unknown Vlogs. Dalam wawancara mereka membeberkan masing-masing outfit yang mereka kenakan dari atas sampai bawah beserta brand dan harganya untuk dikalkulasikan.

Tren ini kemudian masuk ke Indonesia tahun 2018 dan dipopulerkan oleh Yoshiolo dengan tren “berapa harga outfit lo?”. Dalam salah satu video yang diunggahnya terdapat momen lucu ketika ada seorang bocah yang mengatakan jam tangan miliknya Richard Mille RM 12-01 adalah original seharga 12 miliar, meskipun belakangan diketahui jam tangan tersebut adalah kw atau palsu sehingga menjadi bahan bully dan hujat dari netizen +62.

Gaya Hidup Untuk Status Sosial
Tren “berapa harga outfit lo?” mengundang decak kagum banyak orang akan barang-barang mahal yang mereka kenakan, sehingga tak sedikit juga yang mengikutinya dan menjadikannya sebagai gaya hidup. Hal tersebut tentunya tak luput dari hujatan dan cacian karena tren seperti itu membuat jarak status sosial orang yang berduit dan yang tidak belum cukup berduit.

Bagaimana tidak ada anggapan miring jika seorang remaja belasan tahun yang belum mandiri, sudah menggunakan busana ratusan juta kemudian ada orang yang produktif namun hanya menggunakan outfit ratusan ribu saja untuk bertahan hidup.

Mengenakan outfit premium sehari-hari tentu dapat menaikkan status sosial seseorang, dan tak sedikit yang melakukannya agar terlihat lebih mewah atau paling menonjol dari yang lain. Hal ini bisa memacu seseorang untuk mendapatkan pergaulan yang baru dengan orang-orang yang memiliki passion yang sama. Namun perlu diketahui menurut sebuah penelitian bahwa lebih banyak orang yang suka berteman dengan orang yang sederhana.

Tren Hypebeast tentu punya dampak yang negatif karena merangsang kompetisi yang tidak sehat, misalnya dengan yang sudah kaya sejak lahir dan yang berusaha dengan segala cara. Ada sebagian orang yang berusaha bekerja sekuat tenaga namun bukan untuk kebutuhan primer atau investasi, tapi untuk belanja hal-hal yang konsumtif untuk memenuhi hasrat mereka agar bisa bersaing dan menjadi yang terbaik dalam hal fashion.

Banyak orang berpikir semakin hebat penampilan mereka, maka akan semakin banyak orang yang menaruh hormat dan respek terhadap mereka. Padahal cara berpikir seperti itu sangatlah keliru, karena cara kita memperlakukan orang lain yang akan menentukan kelas kita sebagai orang terhormat.

Memiliki gaya hidup Hypebeast silahkan saja asal sesuai dengan ekonomi anda. Menggunakan barang mewah tentu tidaklah salah, tapi ingatlah juga orang-orang membutuhkan dan jangan lupa bayar pajak.

Leave a Reply

Close Menu